Jumat, 25 Februari 2011

Beberapa Catatan Penting dari Teman-teman Blogger

Sepintas Mengenai RUmah dan Sarang Walet

Kualitas sarang walet
Ada dua kriteria untuk menentukan kualitas sarang walet.
Yang pertama bentuk sarang.
Sarang utuh seperti balkon, tidak pecah, dan punggung mulus bernilai jual tinggi. Bentuk sarang sempurna seperti itu dihasilkan dari rumah walet yang memiliki kelembapan optimal 80-90% dan dipanen tepat waktu. Bila kelembapan terlalu tinggi, sarang akan lembek dan berjamur. Sebaliknya bila udara terlalu kering, sarang rapuh dan mudah remuk.
Berikutnya warna sarang.
Warna asli sarang walet putih. Namun, warna itu dapat berubah kekuningan hingga merah darah. Apabila sirkulasi udara dalam rumah tidak optimal, misalnya udara terlalu basah, sarang akan berjamur, kusam, dan berubah kecokelatan. Sarang kusam sulit dijual karena standar yang diminta berwarna putih, kuning, atau merah cerah.

Perilaku Seks Burung Walet
Musim kawin burung walet terjadi disaat musim hujan tiba dikarenakan ketersediaan pakan walet yaitu serangga sangat banyak dan berlimpah sehingga anak burung walet akan terjamin kelangsungan hidupnya. Walaupun koloni burung walet tinggal di rumah burung walet tetapi burung walet tidak akan melangsungkan perkawinan dengan saudaranya sendiri, karena kalau hal tersebut terjadi maka kualitas anakan tidak bagus bahkan terjadi cacat. Dengan demikian maka burung walet akan mencari pasangannya dari rumah burung walet yang lain atau yang tidak satu turunan dengannya. Perkawinan di udara Pada saat masa perkawinan tiba burung walet biasa melakukan perkawinan di atas udara. Salah satu dari sepasang burung ini terbang di depan lawan jenisnya dan tiba-tiba menahan sayapnya membentuk sudut besar horizontal atau bahkan vertical. Burung ini akan meluncur turun ke depan sedangkan burung yang dibelakang mengejarnya. Kemudian sepasang burung ini akan terbang normal dengan posisi terbang pejantan di atas dan betina terbang agak dibawah (missionaries style). Kemudian burung jantan langsung hinggap di punggung burung walet betina tersebut dan sepasang burung ini pun terbang meluncur turun dengan sudut kecil. Burung betina merentangkan sayapnya secara horizontal dan burung jantan merentangkan sayapnya secara vertical membentuk sudut. Sepasang burung ini akan membentangkan sayap dan ekornya selama terjadi perkawianan. Jika ketinggian terbang rendah salah satu burung ini akan sedikit mengepakan sayapnya setelah beberapa detik mereka kembali berpisah. Perkawinan di sarang Perkawinan di sarang dilakukan pada malam hari. Sang betina memanggil burung walet jantan dengan suara cicitannya, setelah mendengar suara walet betina yang berahi, burung walet jantan akan menuju ke tempat burung walet betina dan hinggap di punggung betina. Pasangan burung walet ini kemudian merenggangkan sayapnya dan terjadilah perkawinan. Proses perkawinan di sarang ini akan berlangsung beberapa kali dalam semalam.

Landasan Sarang dari Styrofoam
Berdasarkan pengalaman landasan sarang dari styrofoam ukuran lebar 2 cm , panjang 8 cm dengan ketebalan 2 cm yang diolesi dengan aroma P (untuk nesting plank) kemudian dipasangkan di nesting plank, dalam waktu kurang dari 4 bulan, landasan sarang tersebut sudah dilapisi oleh liur burung walet.
Landasan sarang dari styrofoam ini mampu meningkatkan populasi burung walet 30 - 50% setahun. Landasan sarang ini berguna sebagai penopang sarang saja, sehingga sarang yang dihasilkan penuh dan besar, tidak seperti sarang imitasi plastik yang hanya sedikt diolesi liur oleh burung walet lalu digunakan untuk bertelur.
Landasan sarang dari styrofoam ini memaksa dan memicu burung walet untuk membuat sarang secara utuh, karena styrofoam ini tidak dapat digunakan untuk meletakkan telur, oleh karena itu fungsi styrofoam ini akan meningkatkan produksi sarang.
Selain meningkatkan produksi sarang, styrofoam juga menambah populasi si liur emas putih. Populasi walet dan sarang meningkat setelah 2 kali tetasan. Panen dilakukan 8 bulan setelah tetasan terakhir itu. Pada periode pertama tetasan, anak walet menempati sarang yang dibuat induk sehingga sarang diisi 4 walet: induk jantan, betina, dan 2 anak hasil tetasan.
Supaya anakan burung walet tidak menggunakan sarang induknya sebagai tempat berdiam, landasan sarang yang telah diolesi dengan aroma P ini ditempel di dekat sarang induk, yaitu sekitar 10 cm dari sarang induk
Pada saat anakan burung walet matang gonad, yaitu berumur sekitar 9 bulan, maka anakan ini akan mampu membuat sarang di landasan sarang styrofoam.
Supaya anakan tidak kabur, sebaiknya sarang yang ada di landasan sarang dipanen setelah melewati 2 kali tetasan. Bila 1 kali tetasan sarang induk sudah diambil, dikhawatirkan walet muda yang sedang belajar terbang atau mencengkeram tidak bisa mengenali sarang induknya dan dapat berakibat anakan burung walet akan mudah kabur sehingga populasi tidak meningkat.
Landasan sarang styrofoam dapat rusak dan berlubang, karena anakan burung walet sering mematuk-matuk styrofoam tersebut dan membentuk lengkungan. Oleh karena itu sebaiknya gunakan styrofoam yang lebih tebal, minimal 2 cm.
Rumah Burung Walet di Dataran Tinggi
Pada kebanyakan orang berkecenderungan membuat rumah burung walet di daerah yang ketinggiannya kurang dari 400 meter di atas permukaan laut (dpl). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa mikro klimat rumah burung walet yang ideal adalah berkisar suhu udara antara 26 - 29 derajat Celcius dan kelembaban antara 80 sampai dengan 95%, sehingga lokasi yang ideal untuk rumah burung walet adalah di dataran rendah sampai dengan 400 meter dpl.
Pada daerah dataran tinggi, misalnya 600 meter dpl, suhu udara luar berkisar antara 16 sampai dengan 22 derajat Celcius, dengan kelembaban udara antara 60% sampai dengan 70%. Melihat kondisi ini, maka daerah dataran tinggi (di atas 400 meter dpl) tidak ideal bagi perkembangan burung walet. Namun, seperti di Benteng Pendem, Ambarawa, Jawa Tengah, yang dihuni burung walet, terletak di 600 meter dpl setiap panennya menghasilkan sarang burung walet +/- 40 kg, hal ini disebabkan karena dinding Benteng Pendem ini tebalnya 80 cm sehingga suhu udara di dalam Benteng Pendem ini lebih hangat dibandingkan suhu udara luar.
Membudidayakan burung walet di dataran tinggi mempunyai keuntungan, karena di dataran tinggi masih banyak lahan pertanian dan perkebunan sehingga serangga yang merupakan pakan burung walet lebih banyak tersedia. Dengan tersedianya pakan tersebut, maka burung walet tidak perlu terbang jauh untuk mencari makan.

Suhu dan Kelembapan
Kendala yang dihadapi dalam membudidayakan burung walet di dataran tinggi adalah suhu dan kelembapan udara. Suhu dan kelembapan yang rendah membuat perkembangbiakan burung walet lebih lambat. Kelembapan udara dapat ditingkatkan dengan membuat kolam yang diisi air. Air di kolam ini selain berfungsi untuk meningkatkan kelembapan udara, juga berfungsi sebagai stabilisator suhu udara dan menjaga agar kelembaban udara relatif stabil.
Agar suhu udara di dalam rumah burung walet relatif stabil, maka RBW di dataran tinggi sebaiknya tidak banyak lubang ventilasi udara. Untuk setiap ukuran 4 m x 4 m, cukup 1 lubang ventilasi udara atas dan tidak diperlukan lubang ventilasi bawah.
Dan perlu diketahui bahwa suhu udara dan kelembapan udara tidak hanya berkaitan dengan kualitas sarang walet tetapi juga berkaitan dengan daya tetas telur. Suhu dan kelembapan udara yang rendah akan mengurangi daya tetas telur. Oleh karena itu, di datran tinggi perkembangbiakan burung walet akan lebih pesat di musim kemarau dibandingkan di musim hujan, untuk itu pola panen rampasan yang biasanya dilalukan pada atau menjelang musim kemarau di dataran rendah tidak dapat diterapkan begitu saja di dataran rendah.
Yang menjadi permasalahan, di dataran tinggi populasi walet masih sedikit, yang banyak justru burung sriti. Bila di RBW sudah ada burung sriti maka, harus dilakukan putar telur dan pergunakan suara walet agar burung walet tetasan tetap kembali ke RBW kita dan yang penting mikro klimat yaitu suhu dan kelembapan udara dibuat semirip mungkin dengan habitat burung walet. Selain itu ketersediaan pakan juga merupakan salah satu kunci agar burung walet betah tinggal di dataran tinggi yang dingin dan kering.

Konsep Dasar yang Tepat untuk Pembuatan Rumah Walet
Namun sayangnya, pembangunan rumah walet yang kian menjamur tidak dibarengi dengan produktivitas walet yang tinggi. Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal itu terjadi. Misalnya, kekurangpahaman para pembudidaya walet dalam memperhitungkan konsep dasar pembuatan rumah walet.
Mengatasi Rumah Walet Kosong pada dasarnya, memang tidak mudah memikat walet masuk ke rumah baru. Salah seorang pembudidaya walet mengakui rumah waletnya sudah lima tahun tidak berpenghuni, alias kosong dari walet. Padahal, habitat mikro rumah tersebut sudah memadai. Berbagai perlengkapan penunjangnya pun telah dioperasikan dengan baik. Setelah diteliti ternyata salah satu permasalahannya berasal dari kesalahan penempatan rekaman suara untuk memancing walet.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan melakukan pemasangan tweeter di tempat yang tepat. Tweeter adalah speaker yang bekerja pada frekuensi tinggi. Umumnya, di rumah walet terdapat dua sumber suara, yakni berasal dari external sound dan internal sound. External sound biasanya ditempatkan di atas bumbung (wuwungan) dan di lubang masuk burung. Sementara itu, internal sound biasanya ditempatkan pada roving room dan nesting plank.
Untuk memanggil walet yang berada di kejauhan dapat menggunakan super external caller atau hexagonal tweeter. Hexagonal tweeter ini terdiri atas enam tweeter. Dengan demikian, suara yang keluar akan sangat keras, sehingga burung-burung walet yang sedang terbang di kejauhan dapat mendengarnya. Penggunaan hexagonal tweeter ini sangat efektif untuk memanggil hingga radius 500 m.
Sebaiknya semua tweeter menghadap ke arah lubang masuk burung. Dengan demikian, walet yang telah masuk ke dalam ruangan dapat mencari sumber suara dan menjelelajahi seluruh ruangan. Perlu diketahui pula, kesalahan dalam penataan tweeter justru akan mengakibatkan walet hanya keluar masuk tanpa menginap di ruangan atau rumah walet.
Lubang masuk burung memang merupakan salah satu faktor penting dalam membuat rumah walet. Karena melalui lubang masuk tersebut walet bisa mengetahui dan menempati rumahnya yang baru.
Hal pertama yang harus diperhatikan dalam membuat lubang masuk walet adalah mengetahui arus terbangnya. Pasalnya, walet memiliki sifat yang unik dan khusus, yakni hidup secara berkoloni dan terbang ke satu arah yang tetap. Oleh karena itu, jika ruangan walet tidak ditata sesuai dengan arus putar atau arus terbang walet, populasinya tidak akan maksimal.
Lantas, bagaimana penempatan lubang masuk walet yang tepat? Jika rumah walet Anda berukuran lebar delapan meter dan roving area berukuran minimum 4 x 8 meter, lubang masuk burung dapat ditempatkan di tengah dengan jarak dari plafon 40 cm. Sebaiknya, jarak lubang masuk dari plafon tidak melebihi 40 cm apabila nesting plank atau tempat bersarang lebarnya hanya 20 cm. Hal ini dimaksudkan agar cahaya yang masuk melalui lubang masuk walet tidak banyak membias ke nesting plank.
Ukuran lubang masuk walet dapat disesuaikan dengan populasi walet yang ada di rumah tersebut. Untuk rumah yang baru, disarankan lubang masuknya minimum berukuran 40 x 60 cm. Lubang masuk yang paling efektif untuk memikat walet adalah menghadap ke arah jalan pulang walet.
Namun, jika di rumah walet tersebut terdapat rumah walet lainnya yang telah berhasil membudidayakan walet, sebaiknya arah lubang masuk walet dibuat meniru rumah walet sebelumnya.
Kiat mengatasi rumah walet kosong ini diungkapkan A. Hendri Mulia, SE., CMA dalam buku Strategi Jitu Memikat Walet yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Melalui buku ini, Hendri juga mengungkapkan cara membuat seluruh ruangan dihuni walet, tip memacu walet membuat sarang, dan teknik memikat walet dengan suara tiruan.


Kemarau Datang Bobot Sarang Meningkat
Anggapan bobot sarang turun pada musim kemarau tak berlaku di Sedayu, Gresik, Jawa Timur. Di sana bobot sarang malah naik ketimbang musim hujan. Itu terlihat dari 8 bulan pengamatan terhadap 25 sarang walet di rumah walet model piggy back. Empat bulan musim kemarau, Mei-September, bobot rata-rata 10,7882 g/sarang. Padahal musim hujan hanya 8,9085 g/sarang.
Uji bobot dengan menggunakan timbangan analitik Denver tipe AA-250 dengan ketelitian 4 digit di laboratorium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu sungguh di luar dugaan. Selama ini bobot sarang selalu lebih rendah saat musim kemarau. Suhu dan kelembapan sangat memegang peranan.
Dari penelitian didapat 88% walet setia menempati tempat asal bersarang di rumah walet 5 lantai setinggi 14 m yang dipakai tempat uji coba. Bangunan bercat putih itu dilengkapi lubang walet berukuran 100 cm x 30 cm, normalnya 40 cm x 14 cm agar walet mudah masuk. Suhu ruangan berkisar 25-27oC terasa sejuk karena ventilasi cukup banyak.
Agar kelembapan terjaga pada kisaran 95-98%, di setiap lantai yang memiliki 6-9 kamar ditaruh 2-3 kolam berisi air. Luasan kolam 3 m x 3 m dan kedalaman 30 cm. Pada musim hujan jumlah kolam dikurangi sehingga ruangan tidak terlalu lembap. Kelembapan di atas 98% dapat membuat sarang berubah warna menjadi abu-abu.

Dekat pakan
Selain lingkungan dalam rumah walet, lokasi rumah turut andil menaikkan bobot sarang. Bangunan dekat sumber pakan menjadi pilihan pas. Bangunan yang diamati penulis dikelilingi rawa dan berada 7 km dari pantai utara Jawa. Duapuluh kilometer dari tempat itu tampak jejeran hutan jati. Sungai Bengawan Solo membentang di sebelah selatan lokasi. Itulah lintasan walet saat terbang mencari serangga yang memang menyukai daerah lembap dan berair.
Memang pada musim penghujan produksi pakan melimpah. Namun, pada musim itu walet tergesa-gesa membuat sarang agar cepat bertelur. Hasilnya, bobot sarang lebih ringan dan tipis. Berbeda pada musim kemarau. Meski kecenderungan sumber pakan berkurang, tapi walet tetap aktif memproduksi liur. Itu karena persaingan memperoleh pakan berkurang. Maklum sebanyak 12% walet muda biasanya pergi mencari pakan ke tempat lain.
Saat faktor-faktor seperti suhu, kelembapan, dan kedekatan dengan sumber pakan terpenuhi, walet akan setia dan rajin membuat sarang. Oleh karena itu pada musim kemarau tak ada hambatan bagi walet untuk tinggal dan mencari pakan. Hasilnya bobot sarang terjaga.

Serangga Perbanyak Liur
Kelembapan gy cukup Perbanyak Liur
Kemarau datang, serangga pun berkurang. Itulah yang terjadi di daerah penyebaran walet. Penyebabnya hanya satu: kelembapan turun. Menurut Stefanus Yoki, praktikus walet itu Purwokerto, Jawa Tengah, serangga yang menjadi sumber pakan utama si liur emas itu menyukai daerah lembap dan berair. Contohnya tempat sampah dan aliran sungai. Berkurangnya pakan menyebabkan walet harus terbang ke tempat lain. 'Jarak terbang bisa 40-50 km,' ujarnya.
Setelah mendapatkan pakan, keluarga Collocalia fuchipaga yang terkenal setia itu akan kembali ke rumah asal. Namun, jauhnya jarak tempuh membuat walet kehabisan energi untuk mengeluarkan liur. Imbasnya sarang pun menjadi kecil dan bobotnya ringan.
Hal senada juga diungkapkan Hary K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara. Menurutnya serangga yang kaya protein mampu memicu walet untuk memproduksi liur lebih banyak, sehingga sarang cepat terbentuk. Idealnya sarang terbentuk selama 45 hari. 'Saat pakan melimpah sarang terbentuk dalam 38 hari,' ujar pemilik Eka Walet Center itu.
Ketika pakan berkurang, produksi liur pun sedikit. Akibatnya saat sarang masih berukuran 3 jari, walet sudah bertelur. Dampak lain, sarang yang dihasilkan menjadi tipis dan berbulu, di bawah bobot ideal, 8 g/sarang. Namun, saat kelembapan stabil, niscaya populasi serangga terjaga. Walet pun leluasa memperoleh amunisi untuk membuat sarang.

Prediksi Peningkatan Sarang
Rumus statistik untuk mengetahui jumlah penduduk pada kurun waktu tertentu ternyata dapat diterapkan pada walet. Itu dilakukan Ubaidillah Thohir di Sidayu, Gresik, Jawa Timur. Melalui penelitian selama 3 tahun, kenaikan jumlah sarang dapat diprediksi.
Selama ini kenaikan jumlah sarang walet dihitung berdasarkan pengalaman empiris peternak. Pertambahan sarang sebesar 25% per tahun dianggap bagus untuk sebuah rumah walet. Artinya jika rumah walet itu semula berisi 10 sarang, tahun depan dapat diperkirakan jumlahnya meningkat mencapai 12-13 sarang. Persentase kenaikan sebesar itu lazim terjadi di lokasi-lokasi rumah walet yang memiliki sumber pakan melimpah. Seandainya sumber pakan tak mendukung, kenaikan populasi sarang sekitar 10%, bahkan bisa jadi lebih kecil lagi.
Sidayu yang dipakai Ubaidillah Thohir sebagai lokasi percobaan, menjadi sentra walet sejak zaman penjajahan Belanda. Dahulu di sekitar rumah walet terdapat banyak hutan sebagai sumber pakan walet, sehingga penambahan populasi lebih dari 25% per tahun. Namun, kini sejalan dengan maraknya penebangan liar dan pergantian musim yang tak menentu, laju pertumbuhan sarang terus menurun, bahkan negatif. Padahal, populasi rumah walet di Sidayu terus meningkat.

Laju pertumbuhan
Menurut Ubaidillah untuk memprediksi pertambahan sarang walet bisa menggunakan rumus sensus jumlah penduduk. Ada 3 parameter yang dipakai: jumlah awal sarang (simbol Po), tahun peningkatan yang dikehendaki (simbol n), dan laju pertambahan sarang (simbol r). Secara umum rumus itu adalah 1 ditambah r dipangkatkan n. Hasilnya kemudian dikalikan angka Po untuk memprediksi jumlah pertambahan sarang (Simbol Pp).
Besarnya nilai r dipengaruhi antara lain oleh kematian dan kelahiran walet, serta kemampuan tumbuh hingga dewasa yang berkisar 80%. Namun, sekarang persentase kematian bisa lebih banyak karena sumber pakan banyak yang tercemar pestisida, kata Ubaidillah. Akibatnya, banyak cangkang telur tipis dan mudah pecah, sehingga tak membuahkan anak.
Faktor lain yang mempengaruhi nilai r adalah sumber pakan yang menipis. Hal itu memaksa walet terbang lebih jauh mencari pakan. Bahkan seringkali walet pindah ke rumah lain yang lebih dekat sumber pakan untuk menghemat energi saat perjalanan pulang dari perburuan. Dari pengamatan alumnus Universitas Muhammadiyah Malang itu sejak 1980 di Sidayu, nilai r berkisar 0,25-0,6. Artinya laju kenaikan penambahan sarang di suatu rumah rata-rata berkisar 25-60% per tahun. Tapi kenyataannya saat sekarang mencapai kenaikan 30% saja sudah sangat sulit, tambahnya.
Contoh perhitungan, awal di tempat pengamatan 10 keping. Nilai r yang digunakan 0,25. Berapa penambahan pada tahun pertama? Perhitungannya, 0,25 ditambah 1 lalu dipangkatkan 1. Setelah itu dikalikan jumlah sarang awal, 10 sarang. Hasil akhir diperoleh 12,5 sarang, dibulatkan menjadi 13 sarang. Dengan perhitungan sama pada tahun kedua, akan diperoleh jumlah 16 sarang.

Tergantung pakan
Menurut Philip Yamin, konsultan walet di Cengkareng, Jakarta Barat, cara yang ditempuh Ubaidillah itu bisa digunakan. Tapi karakteristik setiap daerah berbeda sehingga nilai laju pertumbuhan berbeda dengan di Sidayu, ujarnya. Karena sulitnya menentukan laju pertumbuhan (r)-perlu pengamatan lama supaya akurat-Philip memilih menghitung secara manual.
Caranya, hitung jumlah sarang walet yang ada di sebuah rumah, misal 5.000 keping. Sarang-sarang itu masing-masing ditempati oleh sepasang induk. Sepasang induk mampu berbiak 2 kali dalam setahun. Andai tingkat keberhasilan penetasan 80% maka ada sekitar 16.000 anak walet yang dihasilkan dalam setahun. Dari jumlah itu anak walet yang kembali ke rumah hanya 20%. Artinya tahun depan ada penambahan sebanyak 1.600 sarang. Penambahan sebanyak itu menurut Philip berlaku untuk daerah-daerah pengembangan.
Di daerah-daerah padat rumah walet seperti Sumatera Utara dan Pulau Jawa, berdasarkan pengalaman Philip selama puluhan tahun, hanya 10% walet akan kembali ke rumah asal. Sisanya bisa hinggap ke rumah lain dan migrasi ke daerah yang kaya pakan, katanya. Itu artinya, sebanyak 8.000 walet yang akan kembali ke tempat semula dan membuat sarang.
Boedi Mranata, praktisi walet di Jakarta, menggarisbawahi perlunya menjaga lingkungan agar laju pertumbuhan sarang terus meningkat. Ia menggambarkan untuk 1.000 walet setiap harinya butuh 6-7 kg pakan. Jika kebutuhan pakan tercukupi, walet bisa 3-4 kali membuat sarang dalam setahun. Akibatnya, tanpa ada penambahan populasi walet baru, jumlah produksi sarang menjadi 1,5-2 kali lipat.

Ramuan Baru Pemikat Walet
Selama 2 tahun rumah walet di Mojokerto, Jawa Timur, itu kosong melompong. Padahal, persyaratan lingkungan makro dan mikro-kelembapan, suhu, pencahayaan-dipenuhi. 'Sudah dipancing pakai air bekas cucian sarang, tapi nihil,' ujar BM Wawan. Namun, baru seminggu memakai ramuan pemikat walet dengan campuran rumput laut, suara cericit si liur emas itu mulai terdengar di dalam rumah.
Air cucian sarang hanya satu dari sekian cara yang pernah diupayakan BM Wawan untuk memikat walet. Pengusaha kelontong di Surabaya itu pernah pula mengoleskan telur bebek ke dinding. Bahkan menebar air kotoran walet ke lantai rumah walet. 'Itu sudah dikombinasi dengan CD player untuk mengundang walet,' ujarnya. Namun, segala upaya itu belum menuai hasil.
Titik terang muncul setelah Wawan menggunakan ramuan campuran sarang walet dan rumput laut. Kombinasi bau amis keduanya mujarab memancing walet masuk. Tak perlu disemprotkan ke dinding, ramuan itu hanya dioleskan memakai kuas pada lagur. 'Seminggu setelah dioleskan ada walet yang masuk,' katanya. Bahkan saat dicoba pada bangunan walet lain miliknya, walet masuk dalam tempo 3 hari.

Rumput laut
Menurut Agung Santoso, peternak di Mojokerto, rumput laut dapat menghasilkan bau amis yang tidak membuat walet pergi. 'Bau amisnya tidak keras, tapi bisa tahan lama sampai berbulan-bulan karena menyerap di pori-pori kayu,' kata Agung yang sudah meneliti formula itu sejak 1995. Begitu aroma amis di lagur hilang, walet tetap bertahan di sarangnya.
Sarang walet dan rumput laut memang bahan baku utama ramuan itu.
Sekitar 100 g sarang dicuci bersih sebanyak 3 kali
selanjutnya sarang itu direndam air selama semalam.
Sarang kemudian dihancurkan hingga lembut (di tumbuk lebih baik).
Selanjutnya tambahkan 50 g rumput laut dan campuran itu direndam air sebanyak 5 liter.
'Perendaman dilakukan selama kira-kira sebulan,' ujar pengusaha yang sukses menernakkan walet itu. Hasil terbaik bila didapat air rendaman menjadi keruh dan berwarna kekuningan.
Bau amisnya tercium lembut. Air rendaman itu kemudian disaring untuk membuang ampas sarang dan rumput laut. 'Yang dipakai hanya air rendaman saja,' katanya.
Cairan pemikat walet itu harus segera dioleskan pada lagur.
Musababnya bila didiamkan terlalu lama, lebih dari 2 minggu, bau amisnya berubah, tidak tercium segar. 'Ini dapat terjadi pula bila perendaman dilakukan sampai 2 bulan,' ujar Agung.
Bila cairan itu dipaksa untuk digunakan, walet tidak akan terpikat.
Untuk itu perlu takaran yang pas agar ramuan tidak terbuang percuma. Dari pengalaman Agung cairan pemikat sebanyak 5 liter cukup untuk dioleskan pada 2 rumah walet berukuran 10 m x 20 m.
Pemakaian sarang utuh untuk bahan campuran memang mahal. Untuk itu Agung menyarankan sarang remukan yang harganya Rp1-juta-Rp1,5-juta/kg 'Bisa juga dipakai sarang sriti,' kata Agung. Rumput laut dapat dibeli di pasar tradisional. Harganya cukup murah sekitar Rp60.000-Rp70.000/kg.
Ramuan pemikat walet sebetulnya mudah ditemui di pasaran. Namun, tidak semua ramuan itu efektif menjerat walet untuk masuk. Selain sarang sebagai bahan utama, campuran lain yang dipakai adalah kombinasi air kotoran walet dan minyak ikan. Itu yang dilakukan oleh Ade H. Yamani di Karawang. Namun, cairan pemikat itu harus disemprotkan ke seluruh permukaan dinding agar bekerja efektif.
Menurut Hary K Nugroho memancing walet memang gampang-gampang susah. 'Tanpa dipancing walet dapat datang asalkan kondisi lingkungan rumah walet tenang,' ujar pemilik Eka Walet Center di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Tenang berarti jauh dari hiruk-pikuk kegiatan manusia. Itu pula yang terjadi pada walet-walet yang menetap di gua tepi pantai.
Pendapat senada disampaikan Agung. 'Hasilnya akan lebih bagus jika lingkungan tidak ada gangguan,' katanya. Apalagi jika peternak memperhatikan arah masuk dan keluar burung. 'Posisi lubang keluar dan masuk harus searah terbang walet,' ujar Agung. Harap mahfhum itu akan membuat walet merasa aman sehingga saat cairan pemikat dioleskan, Collocalia fuciphaga itu lekas masuk. (A. Arie Raharjo)

Oper Bola Pancing Walet Bersarang
Sudah 3 tahun rumah walet Afong di Kecamatan Siantan, Kabupatan Pontianak, Kalimantan Barat, kosong dari cericit walet. Jangankan untuk bersarang, singgah pun Collocalia fuciphaga itu tidak mau. Namun sejak rumah walet itu dipasang tweeter sistem oper bola selama 8 bulan, ada 200 sarang walet di sana.
Sulitnya si liur emas untuk bersarang di bangunan walet milik pengusaha emas itu kontras dengan lingkungan sekitarnya. Lokasi tempat bangunan itu berada kondang sebagai kompleks walet. 'Di sini ada sekitar 100 rumah walet,' ujar Afong. Mayoritas rumah-rumah itu sudah banyak dihuni walet. Namun, 'Di tempat saya walet-walet itu hanya keluar masuk,' tambahnya. Padahal perangkat pendukung untuk memancing walet antara lain cd walet dan tweeter sudah dipasang.
Nasib baik mulai berpihak setelah bangunan itu dikunjungi seorang konsultan walet dari Jakarta Barat. Konsultan itu menduga sulitnya walet bersarang karena penempatan tweeter yang salah. 'Rupanya posisi tweeter yang berhadapan membuat suara antar tweeter bertabrakan. Akibatnya walet sulit menentukan sumber suara,' ujar Afong yang kemudian mencoba sistem tweeter oper bola. Terbukti setelah posisi dan jarak antartweeter diubah, muncul suara jernih yang membuat walet mau menetap.
Atur jarak Sistem tweeter oper bola yang didesain oleh Ir Lazuardi Normansah pada 1997 bertujuan untuk mengundang walet tertarik masuk, terutama burung baru. 'Diusahakan burung yang datang itu langsung menginap dan dapat ditolerir sampai hari ketiga,' ujar konsultan walet di Jakarta Barat. Langkah awal untuk mengundang walet adalah dengan memasang 2-4 tweeter luar di pintu masuk walet yang terletak di lantai teratas. 'Tweeter harus menghadap keluar supaya suaranya jelas terdengar oleh walet,' kata kelahiran Riau, 40 tahun lalu.
Tweeter lain, void, dipasang lebih dalam berjarak 1-2 m dari tweeter luar. Tujuannya supaya suara tweeter luar samar-samar terdengar dalam ruangan. 'Kalau tweeter void tidak ada, walet-walet itu akan mengikuti arah suara tweeter luar dan walet akan keluar rumah lagi,' ujar Lazuardi. Nah, agar burung masuk sampai ke lantai bawah, pada void di tiap lantai juga dipasang sebuah tweeter. Posisi tweeter antarlantai-tweeter dalam-berselang-seling. Jarak pemasangan setengah dari lebar sirip tembok.
Tweeter dalam yang terpasang pada sirip-sirip perlu diatur letaknya. Idealnya setiap 1 m² dipasang sebuah tweeter dengan jarak 10-20 cm dari bibir sirip. 'Biasanya walet suka menempel pada tweeter. Bila posisi tweeter dekat bibir sirip, walet jadi takut dan malas bersarang,' ujar Lazuardi. Selain itu posisi tweeter diupayakan tegak lurus agar suara yang keluar terdengar jelas.
Ragam suara Selain posisi dan jarak, jenis suara menjadi bagian penting memancing walet masuk dan bersarang. Untuk itu menurut Lazuardi perlu dipasang cd suara kawin, bermesraan, saling memanggil, dan piyik. Yang lain suara walet remaja bermain di tweeter luar. Yang disebut pertama lebih dominan terdengar, sekitar 60-70%. Hal itu untuk merangsang walet segera mencari pasangan dan kawin. Suara piyik dan remaja bermain digunakan 10-20%. Begitu pula suara panggil digunakan sebesar 10-20%. 'Walet itu hidup berkoloni. Saat mendengar suara-suara itu mereka tidak akan merasa sendiri,' jelas Lazuardi.
Pada tweeter dalam dan void suara walet mengasuh piyik, piyik, dan remaja yang sedang bermain lebih dominan. Masing-masing porsinya mencapai 20-30%.
Sisanya, suara walet saat birahi dan bermesraan. Pada tweeter luar, dalam, dan voidragam suara itu dipasang dengan durasi 20 menit yang direkam dalam cd.
Lamanya tweeter menyala mempengaruhi kehadiran walet. Tweeter luar dan void hanya dihidupkan setiap hari pukul 05.00-19.00 WIB. Tweeter dalam pada rumah yang telah berproduksi dipasang mulai pukul 04.00-21.00 WIB. Pemasangan pagi huta untuk tanda waktu agar burung keluar mencari pakan,' tutur Lazuardi. Sedangkan tweeter dalam di rumah dibiarkan menyala selama 24 jam.
Mikroklimat Tweeter yang mampu bekerja maksimal dapat membuat walet masuk dan bersarang. 'Bila dianggap nyaman walet akan menyusuri ruangan sampai ke lantai bawah,' kata Lazuardi. Pada rumah baru, walet biasanya akan berhati-hati masuk lantaran takut. 'Dalam waktu 1-2 detik terbesit keraguan walet untuk tinggal. Namun jika tweeter terpasang benar, keraguan burung akan hilang,' tambahnya.
Tweeter memang bukan satu-satunya faktor penentu walet bersarang. Menurut Hary K Nugroho, konsultan walet di Jakarta Utara, tweeter dipakai sebagai langkah awal menarik walet masuk ke dalam rumah. 'Setelah masuk, selanjutnya mikroklimat dan aroma dalam rumah memegang peran penting,' ujarnya. Idealnya suhu diatur 28-30°C, sehingga tweeter bakal bekerja lebih ringan untuk memikat walet bersarang. (Lastioro Anmi Tambunan)

BIJAK PILIH RUMAH WALET
'Dijual rumah walet 15 m x 7 m. Tiga lantai. Siap isi'. Tawaran menarik dari teman dekat itu segera disambar William-bukan nama sebenarnya-di Jakarta Barat. 'Saya langsung beli seharga Rp0,5 miliar,' katanya. Namun, seiring perjalanan waktu janji walet-walet itu akan bersarang bak jauh panggang dari api. 'Jangankan bersarang, untuk memancing walet masuk saja susahnya setengah mati,' tambah pengusaha alat elektronik itu.
William kian masygul saat menjumpai rumah walet orang lain yang berjarak 1 km dari tempat miliknya di Serpong, Tangerang, itu bisa panen 3 kali setahun. 'Kurang apalagi? Cakram CD walet sudah diputar 6 jam sehari. Dinding pun diberi ramuan walet, tapi hasilnya nihil,' katanya. Bahkan sriti yang mendahului masuk sebelum walet datang juga tidak segera bersarang.
Menurut Harry K. Nugroho, praktikus walet di Jakarta Utara, hal yang menimpa William itu salah satu efek maraknya penjualan rumah walet belakangan ini. Di berbagai surat kabar pariwara dijualnya rumah walet kerap terpampang. 'Rumah yang dijual biasanya produksinya rendah atau memang sulit mengundang walet. Yang tidak mengerti hal itu akan langsung tergiur oleh iming-iming produksi tinggi,' ujarnya. Boleh jadi William adalah salah satu yang menjadi korban.
Sejatinya penjualan rumah walet jadi-real estate walet-adalah bisnis menarik. Tren yang muncul sejak 1999 itu memancing banyak pengusaha mencemplungkan modal besar demi membangun kavling walet. Itu tampak di Tangerang, Serang, Bekasi, hingga Subang, Jawa Barat. Sayang, antusiasme itu malah mengundang petaka. Yang menyedihkan, banyak tempat yang menjadi sumber serangga seperti sawah dan padang rumput bersalin rupa menjadi bangunan walet. 'Serangga jadi sulit didapat sehingga walet semakin jauh mencari pakan,' kata Harry. Ujungnya bisa ditebak, populasi turun bahkan rumah tak kunjung terisi walet.
Cermat Kondisi itu memang harus diwaspadai pembeli. Menurut Doddy Pramono, konsultan walet di Haurgeulis, Indramayu, saat me milih rumah walet perlu dipastikan lokasi rumah berada di daerah lintasan walet. Maksudnya dilalui walet saat pergi dan pulang mencari pakan.
Selain itu lokasi terpilih dekat dengan sumber pakan. 'Paling jauh sekitar 2 km,' ujar Harry. Sayang hal itu sudah sulit ditemui di Jawa, kecuali di Kalimantan, Sumatera, atau Sulawesi.
Meski demikian, walet sebetulnya dapat menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari pakan. Jadi, 'Kalau sekadar berisi walet, bisa. Yang sulit memprediksi tingkat huniannya,' kata Doddy. Pria yang mengeluti walet sejak 1994 itu menyebut, idealnya rumah walet 3 lantai seluas 72 m2 berisi 50 sarang supaya dapat dipanen setiap tahun.
Hal lain yang mesti dicermati saat membeli rumah walet adalah memprediksi populasinya. Padat atau tidaknya populasi dapat dicek dengan memutar cakram CD pemikat walet. Populasi disebut padat bila dalam ½ jam sejak CD diputar tampak sekitar 100 individu. 'Tapi kalau hanya 10 ekor populasinya sangat rendah,' kata Doddy. Oleh sebab itu, pemikiran rumah walet harus berukuran besar agar bisa menampung walet lebih banyak tidaklah sepenuhnya benar. Percuma membangun rumah walet berukuran besar jika populasi walet di lokasi itu sedikit. 'Kecuali kalau mau menunggu hingga bertahun-tahun,' tambahnya.
Luar Jawa Kavling-kavling walet di Pulau Jawa cenderung sulit untuk diharapkan bisa menjaring walet dalam jumlah besar. Di Jawa kini memasuki masa suram untuk pengembangan rumah walet. Kondisi sebaliknya justru terjadi di Kalimantan. Itulah yang dialami para pemain walet di Ketapang. Sebut saja Timotius Kim.
'Sejak 3 tahun terakhir kavling walet banyak tumbuh di jalur Pontianak sampai Ketapang,' ungkap Viany Cin Hong, konsultan walet di Pontianak. Viany menuturkan perusahaannya mengalami kenaikan penjual an perlengkapan rumah walet 200-300% dibandingkan 5 tahun lalu. Sayang, ia menolak menyebut angka pasti. Yang jelas omzetnya sampai puluhan juta rupiah tiap bulan.
Menurut Viany di luar Jawa kondisi alam masih mendukung untuk perkembangan walet. Sebut saja sumber pakan melimpah sehingga memungkinkan penambahan populasi lebih cepat. Perkebunan sawit yang kian meluas dan peternakan ayam yang muncul di berbagai tempat adalah bagian dari pengkayaan sumber pakan. Di luar Jawa ini pula belum banyak pabrik yang mendorong si penghasil liur emas itu untuk bermigrasi. Yang terpenting, rumah-rumah walet belum banyak sehingga tidak terjadi persaingan.
Namun, pengembangan rumah walet di luar Jawa bukan tanpa hambatan. Awal tahun lalu pemda Kota Pontianak mengeluarkan perda yang melarang pemba ngunan gedung walet di dalam kota. Tujuannya, 3-5 tahun mendatang tidak ada lagi gedung walet di tengah kota. Setahun sebelumnya, pemda Kabupaten Ketapang sudah menempuh jalur sama. Rumah walet dianggap merusak keindahan kota, mengancam kebersihan lingkungan, sampai memancing kecemburuan sosial. Makanya izin pembangunan rumah baru tidak diberikan. (A. Arie Raharjo)
Seminar Strategi Jitu Memikat Walet
Seminar Strategi Jitu Memikat Walet yang diselenggarakan oleh Eddy Salim di Hotel Gajah Mada, Pontianak - Indonesia telah berlangsung sukses. Seminar dihadiri oleh 68 peserta yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Brunei.
Saya merupakan pembicara utama di seminar ini yag membahas teknik-teknik terkini untuk memikat burung walet agar burung walet dapat masuk, tinggal dan membuat sarang.
Mikro habitat rumah walet memegang peranan penting sebelum pemikatan dilakukan dengan menggunakan suara. Kita dapat menggunakan berbagai jenis suara asli, artificial dan atau suara-suara lain untuk menarik perhatian burung walet mendekati rumah burung walet (RBW) atau lubang masuk burung (LMB), namun bila mikro habitat RBW tidak memadai maka burung walet tidak akan tinggal apalagi bersarang di RBW tersebut.

Kamis, 03 Februari 2011

Sabtu, 29 Januari 2011

MEnCoBA Bikin RuMah Walet Minimalis

Saya Mencoba bikin rumah walet minimalis dan Insya Allah dah berhasil akan saya bagi-bagikan pengalaman saya ini kepada saudara2 pengusaha kecil yang ngga banyak modal seperti pengusaha2 besar .... Tolong Doanya yahhhh